.jpg)
Libur sekolah telah usai, saatnya kenaikan kelas dan penerimaan siswa baru. Sekarang aku sudah menjadi siswa kelas dua disalah satu SMK di kota ku. Selama kelas satu semua berjalan baik, meski tak ada yang mengesankan. Aku bukan siswa yang berprestasi dan bukan siswa cantik. Nama Puri jarang mereka dengar, karena aku hanya siswa biasa.
Keadaan mulai berbalik ketika ada anak laki-laki masuk sekolah ku pada pertengahan semester pertama. Dia siswa yang baru keluar dari sekolah tervavorit dengan alasan kenakalannya. Dia masuk kekelas satu meski sebenarnya dia murid seangkatan dengan ku, karena dia tidak membawa surat pindah. Johan, teman-teman memanggilnya.
Bel berbunyi jam menunjukkan pukul 09.30 wib, tanda waktu istirahat. Dengan teman sebangku ku Rani, aku segera menuju kantin. Aku lihat si Johan sudah nongkrong di kantin dengan teman-teman. Tiba-tiba Johan menghampiri aku dan Rani yang baru duduk setelah memesan kue dikantin. Ternyata Rani dan Johan adalah tetangga. Aku hanya diam mendengar mereka ngobrol. Sampai si Johan mengulurkan tangannya dan menyapa ku. “Hai, aku Johan…kamu?” Tanya Johan yang serentak mengagetkan aku yang sedari tadi hanya bengong mendengar percakapan. “Puri….”jawabku singkat.
Sejak itu Johan sering membuntutiku, apalagi saat aku duduk sendiri di teras sekolah saat jam istirahat. Dia anak yang rame, pantesan dia punya banyak teman. Di depan teman-teman dia sering memanggilku mama, entah apa yang dia lihat dan fakir dari ku. Aku tak pernah merasa keberatan dengan panggilan itu, jujur dalam hati rasanya senang sekali. Aku tau apa yang sedang aku rasakan ini. Tapi aku tidak mau banyak berharap karena dia memang suka bercanda.
Hari senin setelah dilaksanakan upacara bendera, aku istirahat di UKS karena badanku yang tidak kuat panas terasa lemas. Johan tiba-tiba menjenguk ku dengan segelas air putih dibawanya untuk ku. “Bagaimana keadaanmu Puri?masih lemas?” Tanya Johan dengan mengulurkan air di gelas yang dipegangnya. “Aku tidak apa-apa kok, cuma tadi tidak kuat kan panas banget.”ujar ku. “Ya sudah, masuk ke kelas yuk!”ajak ku ke Johan. Aku berjalan perlahan meninggalkan Johan yang belum juga beranjak. Saat aku sudah di depan kelas, aku mendengar langkah kaki berlari ke arah ku. “Puri, tunggu!”teriak Johan. Aku segera berhenti dan menengok kearah sesosok langkah kaki yang mengikutiku. Dengan wajah cemas Johan meraih telapak tangan ku dan dia berkata “Puri…aku sayang kamu.kamu mau kan jadi pacar ku?”. Melihat tatapan matanya yang penuh harapan dan genggaman tangannya yang lembut, aku hanya bisa menatapnya kagum dan tak sanggup bicara. Melihat ku yang tidak bias bicara Johan seperti merasa bersalah dan ketakutan. “Puri tidak apa-apa kok, tidak dijawab sekarang.” Dia tersenyum sembari berlari menuju ke kelasnya meningglkan ku yang masih tercengang. Saat Johan tak terlihat lagi dari pandangan ku, aku baru tersadar dengan yang baru saja aku alami.
Tidak seperti biasa, Johan yang biasanya sudah nongkrong di kantin saat jam istirahat sekarang tidak ku lihat sosoknya. “Dimana Johan? padahal aku ingin menjawab pertanyaannya.” Gerutu hatiku yang cemas. Tidak lama kemudian Anang teman sebangku Johan menghampiri ku. “Puri, Johan tidak berani menemui kamu.katanya dia takut kamu tolak.” Ujar Anang dengan nafas yang masih belum teratur. Sambil tersenyum aku coba jelaskan kepada Anang “ Tadi aku nggak jawab, soalnya aku kaget nang. Aku nggak nyangka kalau Johan suka sama aku”. “ Kamu masak nggak lihat sih Puri, kelakuan dia yang selalu perhatiin kamu”. Anang coba tegaskan. “Mana Johan?” Tanya ku singkat. “Di depan kelas, waktu dia tau kamu ke kantin dia baru berani keluar”. Jelas Anang.
Aku segera menuju ke Johan yang tidak berani menghampiri ku. “Johan, maaf tadi aku nggak bias ngomong. Tadi aku kaget banget waktu kamu nembak aku, karena apa yang aku rasain ternyata kamu juga ngerasain.” Jelasku langsung saat sudah di depan Johan yang duduk sendiri. “Makasih Puri, maafin aku ya. Aku takut buat menghampiri kamu, aku malah sembunyi.” Jawab Johan yang terlihat bahagia.
Sejak itu waktu terasa singkat, tidak terasa sudah dua tahun kami jalani. Aku pun baru saja lulus dari sekolah. Rasanya baru kemarin kami bertemu. Kangen sekali saat-saat bersama-sama disekolah karena aku yang sudah bekerja sebagai SPG di supermarket. Hari-hari kami selalu berkesan, tidak ada pertengkaran yang berarti. Begitu nyaman saat aku bersama Johan.
Tapi ada 1 hal yang sering menyakiti hati ku, meski tak pernah aku ungkap ke Johan. Semua aku anggap masa lalunya. Peni, cewek yang sering Johan sebut sebagai mantannya yang kerap kali dia ceritakan kepadaku. 2,5 tahun yang lalu, Peni adalah kekasih Johan. Peni cinta pertama Johan yang dulu sangat dia sayangi, sering kali dalam benak ku mengira mungkin sampai sekarang. Semua cerita Johan membuat ku sakit, entah dia tau atau tidak. Tapi aku selalu mencoba menjadi pendengar yang baik untuknya. Karena kebahagian Johan adalah yang terbaik bagi ku. Johan cerita kalau dia belum pernah ada kata putus, tapi dia sudah tau kalau Peni sudah punya cowok jadi Johan menganggap semua telah berakhir.
Selang waktu berjalan, Johan mulai jarang bercerita. Senang rasanya Johan mulai melupakan masa lalunya. Tapi semua tidak berjalan lama, saat Johan sering bertemu dengan Peni karena mereka masuk dalam club voli yang sama tanpa di sengaja. Pelatihan voli yang bebarengan antara putra dan putri membuat mereka sering ngobrol. Johan yang selalu terus terang kepada ku tentang kegiatannya, selalu bercerita tentang apapun yang dia obrolkan dengan Peni. Saat aku lihat hp Johan, disitu juga tersimpan nomer Peni. Bahkan sering aku menemui kotak masuk dari Peni meski itu sebatas teman. Ini semua membuatku takut, aku takut rasa yang dulu ada di hati Johan untuk Peni hadir kembali, aku takut kehilangan Johan.
Aku coba mengerti Johan, aku tau sedikit atau banyak masih ada rasa dihati Johan untuk Peni. Tapi aku tidak mau berprasangka buruk, aku cari hiburan agar tidak terus memikirkan ketakutanku. Bercanda dengan teman-teman, salah satu yang paling menghibur. Apalagi Yopu teman sekosan ku yang selalu menghiburku dengan tingkah dan kata-katanya yang lucu. Anehnya dia selalu tau kalau aku ada masalah. Dia juga teman curhat yang baik, dia sering kasih saran. Meski sering bercanda dan asal ngomong, tapi saat-saat tertentu dia jadi lebih mengerti dari aku.
Setiap ada turnamen Johan selalu mengajak ku untuk memberinya semangat. Pada waktu itu aku tidak bisa mengambil cuti. Johan tidak memaksaku untuk ikut. Aku tau Johan anak yang baik, dia bukan cowok yang egois. Karena itu, aku takut kehilangan Johan. “meski aku nggak bisa ikut ke turnamen, tapi dalam hati selalu memberi semangat dan doa untuk kekasihku satu-satunya ini.”rayuku kepada Johan. “makasih sayang ku” ucap Johan dengan senyuman. Setelah dia cium keningku, Johan segera berangkat menuju turnamen.
Jam sudah menunjukkan pukul 18.45 tetapi Johan tidak memberi kabar, sms dari ku pun tidak dia balas. Cemas sekali rasanya takut terjadi sesuatu pada Johan. Setiap menit ku lihat handphone ku , berharap ada sms dari Johan. Satu jam berlalu, handphone ku berbunyi. Entah itu nomor baru siapa yang masuk di hp ku ini, tapi aku berharap itu Johan. Ku dengar suara cewek dengan nada halus menyapa ku, “halo, selamat malam.” “ya, halo… selamat malam, ini siapa?” tanyaku penasaran. “saya Peni teman Johan, saya diminta Johan menghubungi mbak. Mbak benar yang namanya Puri?” Tanya Peni. Aku yang bingung kenapa Johan menyuruh mantan kekasihnya menelphone ku. Aku tidak dapat berkata, sakit rasanya. Hingga Peni memanggilku kembali,
Peni: “halo, mbak masih disitu kan?”
Puri: “maaf, ya saya masih disini. Kenapa Johan menyuruh mbak buat menghubungi saya? Kenapa bukan Johan sendiri? Dimana sekarang Johan?”
Peni: “Johan sekarang ada dirumah sakit tadi dia cidera saat turnamen berlangsung, tangannya tidak kuat memukul bola. Johan lagi diperiksa dokter jadi dia suruh saya yang hubungi mbak, takut mbak khwatir.”
Puri: “ya, saya sejak tadi menunggu telfon dari Johan. Saya akan segera kesana, terima kasih.”
Aku segera menutup telfonnya karena dalam hati rasanya sakit sekali setiap mendengar dia bicara.
Aku bergegas menuju rumah sakit, karena ingin tau keadaan Johan. Dalam perjalanan hati ku rasanya kacau. Entah apa yang aku fikirkan. Aku cemburu, aku takut kehilangan Johan, aku takut terjadi apa-apa pada Johan. Sesampai di rumah sakit, aku melihat Johan yang hanya di temani seorang cewek. Aku sudah mengira itu pasti Peni. Aku melihat mereka sedang bercanda dan tertawa. Dari jauh pun aku dapat lihat kebahagiaan di wajah Johan yang tidak pernah aku lihat saat dia dengan ku. Aku tidak ingin merusak kebahagiaan itu. Aku hanya meletakkan buah-buahan yang aku beli buat Johan saat dalam perjalanan,ditempat duduk di depan kamar tempat Johan. Mereka pun tidak menyadari kehadiranku. Aku pulang dengan hati yang terluka. Sulit rasanya buat menjelaskan perasaan ini. Apa aku bahagia saat melihat Johan bahagia dengan Peni? Apa aku sedih karena takut kehilangan Johan? Apa yang harus aku lakukan? Semua pertanyaan ini yang terngiang di kepalaku.
Mataku tidak kuat lagi menahan air mata yang dari tadi ingin jatuh. Aku yang selalu mencoba menjadi wonder women agar aku menjadi cewek tegar, tetapi aku kalah. Air mata ini tidak dapat aku tahan. Aku berhenti di taman dekat tempat kos ku. Saat sedih, aku selalu pergi ketaman untuk menenangkan hati ku. Di taman ini tidak akan ada orang yang melihatku menangis. Setelah hati ku sedikit lebih tenang, aku kembali ke kosan.
“wahhh,wonder women kenapa nih matanya bengkak?” goda Yopu yang melihatku sedih. Aku hanya diam dan masuk ke kamar. Saat aku lihat hp ku ada sms dari Johan. Disitu tertulis “mama tadi dari sini ya, kenapa mama tidak masuk? Malah meninggalkan buah didepan kamar papa?”
“maafin mama, mama tadi terburu-buru. Maaf ya pa? mama tidak ada saat papa butuh.”alasanku kepada Johan. “papa tau, mama pergi karena mama lihat Peni nemenin papa kan? Maafin papa ya ma, papa nyakitin hati mama. Papa tau mama cewek yang selalu mencoba tegar dihadapan papa. Maafin papa ya ma?” ujar Johan yang mencoba menerangkan kepadaku. Tak sanggup lagi rasanya membalas sms Johan. Seperti biasa ku tulis curahan hati ini di buku harian karena ini bisa mengurangi sedikit beban di hati ku. “Tuhan terimakasih telah Engkau kirimkan dia untuk ku, Tuhan aku takut sekali kehilangan dia. Aku sangat mencintai dia, tapi aku tidak mungkin memiliki dia. Bukan aku dihatinya. Mungkin Tuhan kirimkan dia sebagai orang yang salah sebelum Tuhan kirimkan orang yang tepat untuk ku. Maafkan aku Tuhan harus lakukan ini, karena aku yakin ini terbaik untuk dia. Meski sakit rasanya dihati ini, tapi aku akan bahagia saat melihat Johan bahagia.” Aku coba pejamkan mata ini, mencoba memberi pengertian kepada hati ini yang takut kehilangan Johan.
Saat mentari mulai menunjukkan sinarnya, takut rasanya membuka mata. Tapi aku tau apa yang harus aku lakukan sekarang. Semoga saja semua apa yang aku lakukan dan yang akan aku korbankan adalah yang terbaik untuk Johan. Meski rasanya aku tidak sanggup lagi bernafas, sesak sekali saat ku hirup nafas, aku yakin ini terbaik untuk Johan.
Ingin sekali rasanya menjenguk Johan, khawatir dengan keadaan Johan. Aku sengaja menjenguk Johan yang akan pulang dari rumah sakit dari kejauhan agar Johan tidak melihatku. Ternyata Peni sudah lebih dulu berada dirumah sakit dan membantu Johan siap-siap pulang. “Dor,,,,,,, lagi apa hayo?” Yopu yang tiba-tiba mengaketkan aku. “mmm,,,,,nggak lagi ngapa-ngapain?”jawabku kebingungan. “ko sembunyi-sembunyi, ayo ikut aku jenguk nenek ku yang dirawat disini.” Ajak Yopu segera. Aku hanya senyum dan mengikuti Yopu meski rasanya hati ku menangis. Ku lihat Johan sudah masuk mobil dan meninggalkan rumah sakit. Sepertinya Yopu melihat Johan, tapi aneh dia tidak mempertanyakan apa-apa kepada ku.
Sesampainya di tempat kos, Johan sudah menunggu ku. Dia terlihat marah saat melihat aku dan Yopu baru datang. “kamu kemana saat aku butuh, sama dia?”gertak Johan. “iya, aku sudah tidak peduli lagi dengan kamu.” aku mencoba menahan air mata ku. Aku berlari ke kamar dan Johan pun segera meninggalkan tempat kos ku. Sakit rasanya melihat Johan seperti tadi, tapi ini demi kebaikan Johan.
Keesokan harinya Yopu mengetuk pintu kamarku yang tidak aku buka sejak kejadian kemarin. “selamat pagi tuan putri…tidur” Yopu mencoba menghiburku. “masuk saja Yopu, tidak aku kunci.” Jawabku. “mata kamu habis kelilipan ya putri tidur, mimpi apa semalam.”Yopu yang masih saja bercanda. “jangan bercanda Yopu, aku lagi nggak ingin bercanda.” Ujarku. “maaf, kenapa kamu kemaren bilang seperti itu ke Johan. Padahal kamu sangat mencintainya?”Tanya Yopu. Aku hanya diam dan menangis. “apa yang kamu lakukan hanya akan menyiksa perasaan kamu.”tegas Yopu. Dia pun meninggalkan ku seperti mengerti aku ingin sendiri. Saat Yopu pergi aku mau menulis di buku harianku. Tapi tiba-tiba aku lihat di meja sudah tidak ada.
Malam hari yang dingin, Yopu memaksaku keluar dari kamar dan mengajakku jalan-jalan. Saat aku sedang duduk ditengah taman, Yopu meninggalkan aku sendiri. Entah kemana perginya Yopu. Tiba-tiba ada 2 orang yang menghampiri ku. Ternyata Johan yang sedang menggandeng tangan Peni. “kalau kamu bisa lakukan itu, aku juga bisa.” Gertak Johan yang terlihat sangat membenciku. Aku hanya diam dan menundukkan kepala. Menahan rasa sakit melihat Johan membenciku. Yopu yang datang langsung menampar Johan yang terus memaki ku. “apa kamu tidak pernah tau ketulusan Puri ke kamu Johan? Aku bukan siapa-siapa Puri, apa yang Puri lakukan kemaren agar kamu membenci Puri dan kembali ke mantan kekasih kamu. karena Puri tau kamu masih sangat mencintai Peni. Dia rela mengorbankan perasaannya demi kebahagiaan kamu. tapi apa yang kamu lakukan ke Puri, kamu hanya menyakiti hatinya. Dia selalu ada buat kamu, tapi kamu yang nggak pernah tau. Apa kamu pernah tau dia sering pergi kesini saat sedih? Saat kamu masuk rumah sakit, dia melihat kamu dengan Peni dan dia tidak berani masuk karena kamu terlihat begitu bahagia. Bukankah kamu juga tau buah yang dikirim buat kamu. esoknya pun dia lihat kamu dengan Peni, dia hanya berani melihatmu dari jauh padahal dia sangat ingin disamping kamu saat kamu butuh. Sekarang apa kamu masih mau menyakiti dia Johan.” Yopu menjelaskan semua pada Johan. Johan melepaskan tangan nya dari genggaman tangan Peni dan menghampiri ku yang hanya sanggup menangis. Terlihat penyesalan diwajah Johan. “maaf Puri aku yang tidak sanggup melihat ketulusanmu, aku malah menyakiti mu.” Johan berkata begitu lembut kepadaku. Yopu mengambil tangan ku dan mengajakku pulang. “ayo kita pergi Puri, disini hanya akan menyakiti hati mu?” “tunggu Yopu” aku melepaskan tangan ku dari Yopu. Aku memegang tangan Peni dan Johan, ku satukan tangan mereka. “Johan ini kan cewek yang selalu kamu cerita kan kepadaku. Dia yang selalu ada dihati kamu. dia lah cinta pertama dan terakhir di hatimu.” Aku dan Yopu melangkah meninggalkan mereka, Yopu menggenggam tangan ku erat seakan dia ingin menguatkan hatiku. “Inilah Wonder Women ku, jangan pernah sedih lagi ya. Tuhan menciptakan orang yang salah untuk kita sebelum kita menemukan yang tepat untuk kita. Bukankah itu yang kamu tulis dibuku harianmu.” Kata Yopu dan tersenyum kepada ku.